Ringkasan untuk guru (biar tidak tenggelam di pasal)
Regulasi ini menetapkan kriteria minimal proses pembelajaran agar pembelajaran efektif–efisien dan kompetensi murid berkembang optimal.
Intinya: Perencanaan, Pelaksanaan, dan Penilaian Proses.
Targetnya simpel: kelas nggak cuma “jalan”… tapi nyampe.
Ruang lingkup Standar Proses: mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran. Prinsip pembelajaran (core vibes): berkesadaran, bermakna, menggembirakan.
(murid paham tujuan, nyambung ke dunia nyata, dan suasananya positif–menantang).
Dokumen perencanaan pembelajaran minimal memuat: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen/penilaian.
Pelaksanaan pembelajaran perlu membangun suasana: interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi partisipasi aktif;
memberi ruang prakarsa–kreativitas–kemandirian; dengan lingkungan belajar aman, nyaman, inklusif.
Pengalaman belajar murid dituju ke 3 hal: memahami → mengaplikasi → merefleksi.
Kerangka pembelajaran: praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi.
Penilaian proses pembelajaran = asesmen terhadap perencanaan & pelaksanaan; dilakukan minimal 1 kali per semester melalui refleksi diri,
dan dapat melibatkan sesama pendidik, kepala sekolah, dan/atau murid.
✨ Prinsip Pembelajaran (yang wajib “hidup” di kelas)
Berkesadaran
Murid memahami tujuan belajar → termotivasi, aktif, dan bisa mengatur diri.
Bermakna
Murid menerapkan dan membangun pengetahuan baru dalam konteks nyata/lintas bidang.
Menggembirakan
Suasana positif, aman untuk mencoba, menantang, menyenangkan, memotivasi.
✅ Aksi Nyata Guru (Standar Proses 2026)
Format tanya-jawab ini dibuat supaya bisa langsung dipraktikkan (bukan sekadar “paham pasal”).
Q1. Inti Standar Proses 2026 itu apa, versi guru?
Standar Proses itu “aturan main minimal” biar pembelajaran efektif–efisien dan kompetensi murid berkembang optimal.
Fokusnya tiga: perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran.
Q2. Tiga prinsip wajib yang harus “terasa” di kelas itu apa?
Berkesadaran, bermakna, menggembirakan.
Artinya: murid paham arah belajar, nyambung dengan konteks nyata, dan suasana kelas positif–menantang (bukan tegang tapi kosong).
Q3. “Berkesadaran” itu aksi konkretnya apa?
Buka pelajaran dengan tujuan versi murid (1–2 kalimat: “hari ini kalian bisa…”),
lalu minta murid menulis target mini (30 detik). Kecil, tapi efeknya: murid lebih fokus dan tahu “ngapain”.
Q4. “Bermakna” biar nggak jadi slogan, gimana?
Pastikan tiap topik punya minimal 1 aktivitas yang menuntut murid menerapkan konsep pada konteks nyata
(rumah, sekolah, lingkungan, isu lokal) atau lintas mapel. Kalau tugasnya cuma mengulang definisi, itu baru “hafal”, belum “makna”.
Q5. “Menggembirakan” itu berarti kelas harus lucu terus?
Nggak. Menggembirakan = suasana aman untuk mencoba dan salah, positif, menantang, dan memotivasi.
Humor boleh, tapi yang wajib: aman–jelas–menantang. (Kalau lucu tapi murid bingung, itu komedi, bukan pembelajaran 😄)
Q6. Dokumen perencanaan pembelajaran minimal harus berisi apa?
Minimal memuat: tujuan pembelajaran, langkah pembelajaran, dan asesmen/penilaian.
Panjang boleh, tapi tiga ini harus jelas dan saling nyambung.
Q7. Pengalaman belajar murid yang wajib dituju itu apa saja?
Tiga tahap: memahami → mengaplikasi → merefleksi.
Praktik simpelnya: konsep jelas, dipakai untuk memecahkan masalah, lalu murid menilai prosesnya dan menentukan perbaikan belajar.
Q8. Penilaian proses pembelajaran itu apa dan minimal kapan dilakukan?
Ini asesmen terhadap perencanaan & pelaksanaan (cara kita mengajar), bukan cuma nilai murid.
Minimal 1 kali per semester lewat refleksi diri, dan bisa melibatkan sejawat, kepala sekolah, dan/atau murid.
Q9. Contoh refleksi diri yang cepat tapi nendang itu gimana?
Pakai 5 pertanyaan (10 menit):
1) Tujuan tercapai bukti apa?
2) Bagian mana murid paling aktif dan kenapa?
3) Bagian mana murid buntu dan kenapa?
4) Asesmen sudah mengukur tujuan belum?
5) Minggu depan saya ubah apa (1 hal saja, tapi konkret)?
Pro-tip: Simpan refleksi 1 halaman per mapel per semester. Nanti pas supervisi/PKG, kamu tinggal senyum: “ini jejak perbaikannya, Pak/Bu.”
📌 Dokumen resmi lengkap
✅ Ini acuan resmi untuk memastikan proses pembelajaran “niatnya jelas, jalannya jelas, dan dicek lagi dampaknya”.
Biar kelas nggak cuma bergerak… tapi berdampak.
0 Komentar