Para peneliti muda SMA Negeri 3 Salatiga yang tergabung dalam Tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) berhasil memperoleh medali emas dalam ajang Thailand International Science, Invention and Innovation Fair (TISIIF) 2026. Ajang lomba bagi peneliti muda ini diselenggarakan oleh Indonesia Young Scientist Association dan Next Generation Knowledge di Tailan pada 20 Juli kemarin.
Tim KIR yang berkompetesi di bidang Physics, Energy & Engineering ini dibimbing oleh dua guru Fisika SMA 3 Salatiga, yakni Agus Nugroho, M.Pd. dan Bangun Nugroho, S.Pd. Tim ini terdiri dari Najma Zulaif Falha (XII.3), Febryan Octa Cahaya Putra (XII.1), Nizar Pradipa Kurniawan (XII.1), Yasmin Ayu Pradipta (XII.2), Salsabila Putri Merlinda (XI.2), dan Kheisya Avinda Setiani (XI.9).
Najma dkk. mengikuti lomba penelitian ini secara online melalui media zoom. Dalam ajang lomba ini, Tim KIR mempresentasikan hasil penelitiannya yang berjudul “KOITHERMIA(Koi Thermal Control and Intelligent Monitoring Apparatus with Renewable Energy).”
Setelah mempresentasikan hasil penelitiannya secara meyakinkan di antara peserta dari Thailand, Malaysia, Vietnam, Kazakhstan, Mexico, Turkmenistan, Hongkong, para peneliti muda SMAN 3 Salatiga berhasil meraih medali emas (gold medal).
Penelitian Tim KIR ini berfokus pada rancang bangun dan pengembangan KOITHERMIA (Koi Thermal Control and Intelligent Monitoring Apparatus). Inovasi ini merupakan sebuah sistem otomasi berbasis sensor suhu yang dirancang khusus untuk mengoptimalkan pemeliharaan benih ikan Koi (Cyprinus khusus rubrofuscus).
Sistem ini mengintegrasikan energi terbarukan (panel surya) sebagai sumber daya utama dan dilengkapi dengan fitur pemantauan jarak jauh (remote monitoring). Tujuan utama dari alat ini adalah untuk menjaga kestabilan suhu air kolam pembibitan secara cerdas dan otomatis.
“Harapannya, (melalui alat itu) dapat meningkatkan persentase kelangsungan hidup serta kualitas benih ikan Koi,” terang Agus Nugroho didampingi Bangun Nugroho dan Tim KIR.
Lebih jauh Agus Nugroho yang juga Ketua Ikatan Guru Peneliti Indonesia Provinsi Jawa Tengah ini menuturkan, Tim asuhannya membutuhkan waktu 90 hari untuk keseluruhan rangkaian pengerjaan fisik, pengujian, hingga penyusunan hasil penelitian.
Pada fase pembuatan dan perakitan alat (30 Maret – 13 Juni), Tim KIR berkolaborasi dalam proses manufaktur dan perakitan komponen fisik KOITHERMIA, pengintegrasian modul sensor suhu, panel surya sebagai catu daya, serta sistem monitoring. Pada fase ini, Tim KIR menghabiskan waktu selama 76 hari.
Selanjutnya, pada fase uji coba dan penyusunan hasil dilakukan selama 14 hari (14 Juni – 27 Juni). Pada tahap ini Tim melakukan uji coba sistem secara langsung pada kolam pembibitan benih ikan koi, evaluasi stabilitas suhu, pengumpulan data performa alat, serta penyusunan laporan hasil penelitian.

.jpeg)

0 Komentar