SALATIGA — Siswa SMA Negeri 3 Salatiga mengubah pembelajaran tentang kemandirian pangan menjadi praktik konsumsi yang lebih bertanggung jawab melalui festival kuliner sehat, Rabu, 12 Agustus 2026. Produk pangan lokal yang mereka kembangkan dipasarkan dengan pembatasan plastik sekali pakai, pemilahan sampah, serta penggunaan kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Festival menjadi tahap penerapan dari proses belajar yang sebelumnya membawa siswa mengenali sejarah pangan lokal, mengembangkan produk, hingga memikirkan dampak lingkungan dari proses produksi dan konsumsi.
Sejak menata stan, siswa diwajibkan menggunakan dekorasi berbahan alami atau material yang dapat digunakan kembali. Daun, bambu, kain, dan plastik bekas yang masih layak pakai menjadi pilihan, sementara penggunaan dekorasi sekali pakai dibatasi. Setiap stan juga menyediakan tempat sampah terpilah.
Dalam transaksi, siswa lain yang membeli produk diwajibkan membawa wadah atau tumbler sendiri apabila memilih menu yang membutuhkan wadah. Stan menyediakan wadah berbahan daun atau besek untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Produk siswa tidak hanya dinilai berdasarkan rasa. Juri juga mempertimbangkan nilai sejarah menu, higiene pangan, serta penerapan prinsip minim plastik. Siswa mempresentasikan asal-usul makanan dan alasan modifikasinya, kemudian melakukan pitching mengenai rasa, konsep kemasan ramah lingkungan, dan prospek harga produk.
“Kemandirian pangan tidak cukup dipahami sebagai kemampuan menghasilkan makanan. Siswa juga perlu belajar memilih bahan lokal, menjaga kesehatan, menghitung nilai ekonominya, dan bertanggung jawab terhadap sampah yang muncul dari pilihan konsumsi kita,” kata Dr Saptono Nugrohadi MPd MSi.
Tanggung jawab terhadap sampah berlanjut setelah kegiatan jual beli selesai. Siswa bersama-sama membersihkan area bazar, mengumpulkan sampah organik untuk disalurkan ke Rumah Kompos Smantisa, serta mengarahkan sampah anorganik ke Bank Sampah sekolah.
Rangkaian hari ketiga kemudian ditutup dengan refleksi mengenai makna kemerdekaan pangan dan pembacaan komitmen siswa untuk menjaga lingkungan melalui konsumsi pangan sehat lokal yang berkelanjutan.
Dengan demikian, festival tidak berhenti pada kegiatan menjual makanan. Siswa berhadapan langsung dengan konsekuensi dari sebuah produk pangan mulai dari bahan yang dipilih dan cara menjualnya hingga kemasan dan sampah yang ditinggalkan.

0 Komentar