SALATIGA — Sembilan mahasiswa UIN Salatiga mulai menjalani pengalaman pendidikan langsung di SMA Negeri 3 Salatiga melalui program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Jumat, 28 Agustus 2026. Hingga Desember mendatang, mereka akan belajar bersama guru pamong untuk memahami pembelajaran sekaligus kehidupan sekolah sebagai bagian dari pembentukan kompetensi calon pendidik.
Mahasiswa tersebut adalah Alma Azrel Pamula, Dwi Pramono, Nabila Azdwa Azzahra, Muhammad David Ridwan, Oryza Embun Putri Santosa, Siti Ratna Dwi Rahayu, Rahmawati Maisaroh, Nisa Hanifatuz Zahra, dan Ramadhani Yudha Afifi. Mereka berasal dari bidang Pendidikan Agama Islam (PAI), Tadris Bahasa Inggris, Tadris Matematika, serta Bimbingan dan Konseling Pendidikan Islam (BKPI).
Penyerahan mahasiswa dari UIN Salatiga kepada pihak sekolah berlangsung di Ruang Edutainment SMA Negeri 3 Salatiga. Kegiatan dipandu Wakil Kepala Sekolah Urusan Humas Muhlasin, S.Pd.
Dosen Pembimbing Lapangan UIN Salatiga, Rr. Dewi Wahyu Mustikasari, S.S., M.Pd., Ph.D., mengatakan pengalaman mahasiswa di sekolah diharapkan melampaui kewajiban akademik.
“Kami berharap mereka tidak hanya memperoleh pengalaman mengajar, tetapi juga belajar tentang kedisiplinan, etika profesi, komunikasi, kolaborasi, dan bagaimana menjadi bagian dari kehidupan sekolah,” ujarnya.
Selama program, mahasiswa didampingi guru pamong sesuai bidang masing-masing. Sri Asih, S.Pd. mendampingi bidang Bahasa Inggris, Muh. Sukron, M.Pd. untuk PAI, Asny Eka Indriastuti, S.Pd. untuk Matematika Wajib, serta Nanda Nur Mulatsih, S.Pd. sebagai Koordinator BK.
Mewakili sekolah, Dr. Saptono Nugrohadi, M.Pd., M.Si. menegaskan mahasiswa MBKM hadir bukan untuk menggantikan peran guru. Sekolah menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh di kampus dengan kenyataan pendidikan sehari-hari.
“Mahasiswa datang ke sekolah bukan sebagai pengganti guru, melainkan sebagai calon pendidik yang sedang belajar bersama guru pamong. Silakan berkreasi dan berinovasi, tetapi tetap dalam koridor kurikulum, tata tertib, budaya sekolah, dan arahan guru pamong,” kata Saptono.
Ia juga meminta mahasiswa tidak menjadikan MBKM sebatas pemenuhan kewajiban akademik. “Hadirlah bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban MBKM, tetapi berikan nilai tambah bagi peserta didik dan sekolah,” lanjutnya.
Saptono menggambarkan proses tersebut melalui tiga tahapan: hakikat, syariat, dan makrifat. Hakikat merujuk pada kesempatan mahasiswa belajar dari kenyataan pendidikan. Syariat berkaitan dengan proses yang harus dijalankan secara tertib, mulai orientasi, observasi, penyusunan perangkat, praktik pembelajaran, monitoring hingga pelaporan. Adapun makrifat dimaknai sebagai tumbuhnya pemahaman bahwa profesi guru tidak berhenti pada kemampuan menyampaikan materi, tetapi juga menuntut kemampuan memahami peserta didik dan menjalankan tanggung jawab profesi.
Program MBKM berlangsung secara bertahap hingga Desember. Monitoring pertama pada 14–26 September difokuskan pada perangkat pembelajaran. Monitoring berikutnya pada 5 Oktober–14 November diarahkan pada pelaksanaan pembelajaran, sedangkan monitoring 16–30 November berfokus pada penyusunan laporan. Penarikan mahasiswa dijadwalkan pada 7–12 Desember 2026.
Rentang waktu tersebut memberi mahasiswa kesempatan mengalami proses pendidikan lebih utuh. Mereka tidak hanya berhadapan dengan materi pelajaran, tetapi juga dengan peserta didik, budaya sekolah, koordinasi antarguru, serta tanggung jawab yang menyertai profesi pendidik.


.jpeg)


0 Komentar