SALATIGA — Seratus siswa SMA Negeri 3 Salatiga mengikuti pendidikan antikorupsi bersama Kejaksaan Negeri (Kejari) Salatiga, Senin, 31 Agustus 2026. Kegiatan ini mengajak siswa memahami bahwa pencegahan korupsi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: jujur, berani menolak kecurangan, dan peduli terhadap lingkungan sekitar.
Kepala Kejaksaan Negeri Salatiga Erik Meza Nusantara, S.E., S.H., M.H., M.M. mengatakan, siswa SMA merupakan bagian dari generasi yang kelak menerima estafet kepemimpinan. Karena itu, pembentukan integritas perlu dimulai sebelum mereka memasuki dunia kerja maupun ruang-ruang pelayanan publik.
Menurut Erik, praktik korupsi tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Perilaku tersebut dapat berawal dari kebiasaan kecil yang mengikis kejujuran dan kemudian dianggap biasa.
Melalui kampanye antikorupsi, Kejari Salatiga mendorong siswa berani bersikap ketika berhadapan dengan ketidakjujuran.
“Jadikan kejujuran sebagai prinsip utama dalam belajar dan berinteraksi. Berani menolak, yaitu katakan tidak pada segala bentuk kecurangan sekecil apa pun,” pesannya.
Ia juga meminta siswa tidak membiarkan ketidakjujuran tumbuh karena sikap saling diam.
“Jaga lingkungan sekolah agar tetap bersih dari budaya saling tutup mata terhadap ketidakjujuran,” kata Erik.
Pelaksana Tugas Kepala SMA Negeri 3 Salatiga Supriyanto, S.Pd. menilai pendidikan antikorupsi penting karena berkaitan langsung dengan integritas, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut tidak hanya diperlukan calon pemimpin, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari siswa.
“Pelajaran antikorupsi sangat penting untuk kita semua karena di baliknya ada integritas, kejujuran, dan tanggung jawab yang dibutuhkan oleh semua,” ujarnya.
Kegiatan yang berlangsung sekitar dua setengah jam di Aula Smantisa itu juga menghadirkan edukasi kesehatan bersama tenaga kesehatan serta melibatkan sejumlah pihak dari Kota Salatiga.
Selain pendidikan antikorupsi, kegiatan diisi dengan donor darah, pameran produk UMKM berbahan sampah, dan pojok literasi kesehatan. Siswa juga menerima tumbler sebagai bagian dari pesan kepedulian terhadap lingkungan sekolah yang sehat.
Bagi para siswa, pendidikan antikorupsi hari itu membawa persoalan yang sering dianggap besar ke dalam tindakan yang dekat dengan kehidupan mereka. Integritas dapat dimulai dari ruang kelas: tidak berbuat curang, berani mengatakan tidak pada ketidakjujuran, dan tidak memilih diam ketika melihat sesuatu yang keliru.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
0 Komentar