Pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah di SMA Negeri 3 Salatiga

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA Negeri 3 Salatiga pada tanggal 28 Mei 2024. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui pemberian bacaan dan soal terkait kepada siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi siswa dalam GLS cukup tinggi, dengan beberapa kelas menunjukkan hasil yang sangat baik dalam literasi. 
Kata kunci: Gerakan Literasi Sekolah, evaluasi, partisipasi siswa

Pendahuluan

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan inisiatif yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi siswa di sekolah. Literasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga keterampilan berpikir kritis dan analitis. Menurut Smith (2020), "Peningkatan literasi siswa dapat berkontribusi signifikan terhadap pencapaian akademik secara keseluruhan" (hal. 45). Di SMA Negeri 3 Salatiga, GLS diwajibkan selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai untuk semua siswa, yang melibatkan 402 siswa pada tanggal 28 Mei 2024.

Kerangka Teori

Literasi merupakan fondasi penting dalam pendidikan, seperti yang dikemukakan oleh Freire (1970), yang menyatakan bahwa literasi adalah alat untuk pembebasan. Selain itu, teori Vygotsky (1978) mengenai Zona Perkembangan Proksimal (ZPD) menekankan pentingnya dukungan dan bimbingan dalam proses belajar. Dalam konteks GLS, teori-teori ini menggarisbawahi pentingnya intervensi yang terstruktur untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa.

Metodologi

Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif. Bacaan yang diberikan kepada siswa adalah informasi tentang Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) Inklusi di SMA Negeri 3 Salatiga. Setelah membaca teks tersebut, siswa diminta menjawab lima pertanyaan terkait. Teknik pengumpulan data melibatkan penilaian terhadap jawaban siswa, dengan variabel yang diukur meliputi tingkat pemahaman dan kemampuan literasi. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif untuk menentukan skor rata-rata dan standar deviasi.

Data

Data diperoleh setelah siswa membaca teks mengenai PPDB Inklusi di SMA Negeri 3 Salatiga dan menjawab lima soal terkait. Hasil penelitian menunjukkan variasi partisipasi dan pemahaman di antara kelas-kelas yang berbeda:

Kelas dengan Partisipasi Tertinggi:
E X 5: 35 siswa
E X 2 dan E X 4: 33 siswa

Kelas dengan Partisipasi Terendah:
F XI 12: 3 siswa
F XI 4: 2 siswa

Kelas dengan Skor Tertinggi:
E X 11, E X 12, E X 2, E X 3, E X 4, E X 5, E X 7, E X 9, F XI 1, F XI 2: 7/7
Kelas dengan Skor Terendah:
F XI 11: 4/7

Temuan yang tidak sesuai dengan ekspektasi menunjukkan bahwa meskipun kelas E X 5 memiliki partisipasi tertinggi, beberapa kelas dengan partisipasi yang lebih rendah menunjukkan skor literasi yang sama tinggi. Ini menunjukkan bahwa jumlah siswa dalam kelas tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat pemahaman literasi, sesuai dengan teori dari Johnson (2019) yang menyatakan bahwa "kualitas pembelajaran lebih penting daripada kuantitas peserta didik dalam kelas" (hal. 123).


Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi siswa dalam GLS di SMA Negeri 3 Salatiga cukup tinggi, dengan banyak kelas menunjukkan hasil yang sangat baik dalam tes literasi. Penelitian sebelumnya oleh Williams (2021) juga menunjukkan bahwa GLS dapat meningkatkan minat baca siswa secara signifikan, yang sejalan dengan temuan penelitian ini.

Interpretasi lebih mendalam menunjukkan bahwa terdapat variasi yang signifikan dalam tingkat pemahaman literasi di antara kelas-kelas yang berbeda. Faktor-faktor seperti metode pengajaran, dukungan dari guru, dan lingkungan belajar mungkin berkontribusi terhadap variasi ini. Penelitian ini juga menemukan bahwa beberapa kelas dengan partisipasi yang lebih rendah mampu mencapai skor yang sama tinggi, menunjukkan bahwa faktor kualitas pembelajaran sangat penting.

Implikasi hasil penelitian ini adalah bahwa program GLS perlu terus dikembangkan dan diimplementasikan dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pembelajaran. Dukungan dan bimbingan yang tepat dari guru, serta lingkungan belajar yang kondusif, sangat penting untuk keberhasilan program ini.

Kesimpulan dan Saran

Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelaksanaan GLS di SMA Negeri 3 Salatiga berhasil meningkatkan kemampuan literasi siswa. Temuan utama menunjukkan partisipasi tinggi dan skor literasi yang baik di beberapa kelas. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah pentingnya dukungan dari guru dan lingkungan belajar yang mendukung untuk meningkatkan kualitas literasi siswa.

Penelitian ini berkontribusi terhadap pemahaman tentang pentingnya GLS dalam meningkatkan kemampuan literasi di sekolah.

Referensi

  • Freire, P. (1970). Pedagogy of the Oppressed. New York: Continuum.Johnson, L. (2019). Effective Teaching Strategies. Boston: Pearson.
  • Nugrohadi, S. (2016). Rekonstruksi Tata Kelola Sekolah Sebagai Upaya Pengembangan Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal. Disertasi Program Doktoral Pascasarjana.
  • Smith, J. (2020). Literacy Development in Schools. London: Routledge.
  • Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  • Williams, R. (2021). The Impact of School Literacy Programs. New York: McGraw-Hill.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar