Buka Bersama Jadi Ruang Refleksi di Akhir Ramadan

Menjelang waktu berbuka, halaman Masjid An Nur SMA Negeri 3 Salatiga mulai dipenuhi siswa dan guru pada Kamis (12/3). Mereka datang tidak hanya untuk berbuka bersama, tetapi juga untuk berbagi waktu dan saling menyapa di tengah kesibukan sekolah.

Kegiatan buka bersama yang dimulai pukul 16.30 WIB ini menjadi ruang sederhana untuk mempererat kebersamaan di lingkungan sekolah.

Kepala SMA Negeri 3 Salatiga, Drs. Supriyanto, M.Pd, mengingatkan bahwa sepuluh hari terakhir Ramadan sering menjadi masa yang tidak mudah bagi banyak orang.

Menurutnya, pada masa itu justru berbagai godaan sering muncul sehingga seseorang perlu menjaga niat dan kedisiplinan dalam menjalani ibadah.

Sebelum waktu berbuka tiba, tausiah disampaikan oleh Muh. Sukron, M.Pd. Ia mengajak peserta merenungkan kembali makna berbagi dalam kehidupan sehari-hari.

“Sering kali bantuan justru terus mengalir kepada mereka yang sudah berkecukupan. Padahal di sekitar kita masih banyak orang yang datang dengan harapan sederhana, berharap ada pertolongan,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan tentang al-qasr, yaitu keadaan ketika seseorang mulai lalai terhadap hal-hal yang penting dalam hidup. Kondisi ini sering terlihat dari kebiasaan menunda pekerjaan dan memilih kenyamanan sesaat.

Dalam konteks pendidikan, sikap menunda dan malas belajar dapat membuat seseorang kehilangan banyak kesempatan. Waktu terus berjalan, sementara banyak hal penting tertinggal.

Ia mengingatkan bahwa masa belajar bagi pelajar merupakan waktu yang tidak dapat kembali.

Belajar, katanya, tidak hanya terjadi di ruang kelas. Lingkungan rumah, pergaulan, dan pengalaman sehari-hari juga menjadi bagian dari proses seseorang memahami kehidupan.

Dalam tausiahnya, ia juga menyinggung pentingnya sikap saling menghormati di tengah keberagaman agama di masyarakat. Perbedaan keyakinan merupakan kenyataan yang selalu ada, namun kehidupan bersama tetap dapat berjalan baik ketika setiap orang menjaga sikap hormat dan bekerja dengan jujur.

Menjelang adzan magrib, doa berbuka dipimpin oleh Solikhin, S.PdI. Setelah itu jamaah melaksanakan salat Maghrib berjamaah dengan imam Sugeng Riyanto, M.Pd.I.

Sore itu, buka bersama bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi pengingat bahwa sekolah juga dapat menjadi tempat belajar tentang kebersamaan, disiplin, dan kepedulian kepada sesama.

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar