Di sebuah arena pertandingan, kemenangan memang selalu terlihat paling mencolok. Tepuk tangan, medali, dan podium sering menjadi pusat perhatian. Namun bagi banyak atlet muda, perjalanan menuju gelanggang justru menyimpan pelajaran yang lebih panjang daripada sekadar hasil akhir.
Itulah yang dirasakan Jehova Imanuel Davin Prajata, siswa SMA Negeri 3 Salatiga ketika mengikuti Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Wadokai Karate-Do Indonesia 2026 di GOR Laga Satria, kawasan Gelora Pakansari, Cibinong, Bogor. Kejuaraan yang berlangsung pada 30 April hingga 3 Mei 2026 itu diikuti sekitar 400 atlet dari berbagai provinsi di Indonesia dan masuk dalam agenda Pusat Prestasi Nasional (PusPresNas).
Bagi Davin, mengikuti kejuaraan bukan semata tentang mengejar podium. Ada proses panjang yang ingin ia ukur kembali setelah berbulan-bulan menjalani latihan.
“Saya mengikuti event ini untuk menjadi tolak ukur program latihan yang sudah saya jalani sejak jauh hari, sekaligus menambah pengalaman bertanding dan meningkatkan prestasi,” ujarnya.
Ia turun di kategori Junior Kumite Putra -68 kilogram, kelompok usia 16–17 tahun. Menjelang pertandingan, tantangan yang dihadapi ternyata bukan hanya lawan di atas tatami. Sehari sebelum tanding, ia harus menjaga berat badan agar tetap masuk kategori pertandingan.
Kecemasan itu membuatnya lebih disiplin mengatur pola makan. Bahkan ia memilih berpuasa untuk memastikan berat badannya tidak melewati batas kelas pertandingan.
Namun setelah memasuki arena pertandingan, suasana berubah menjadi campuran antara tegang dan antusias. Ia mencoba meredam grogi dengan berdoa, melakukan pemanasan bersama tim, mendengarkan arahan pelatih, hingga mencoba langsung tatami yang akan digunakan bertanding.
Di situlah olahraga sering memperlihatkan sisi pendidikannya.
Karate tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga mengajarkan pengendalian diri, ketahanan mental, dan kemampuan menghadapi tekanan. Seorang atlet belajar bahwa rasa takut tidak selalu hilang, tetapi bisa dikelola dengan disiplin dan kesiapan.
Ketua Umum PB Wadokai Karate-Do Indonesia, Edi Slamet Irianto, menegaskan bahwa Kejurnas bukan hanya ajang mencari juara, melainkan juga bagian dari pembinaan atlet karate nasional. Selain pertandingan, agenda kegiatan juga diisi latihan bersama (gashuku), Ujian Kenaikan Tingkat (UKT), serta penataran pelatih dan wasit.
Di tengah kompetisi yang ketat, Davin akhirnya meraih medali perak pada nomor Kumite Junior Putra -68 kilogram. Hasil itu memang belum sepenuhnya memenuhi target pribadinya. Namun bagi seorang atlet muda, perjalanan menuju prestasi sering kali dibangun dari keberanian untuk terus datang, belajar, dan bertanding lagi.
Karena dalam olahraga, kemenangan terbesar kadang bukan hanya berdiri di podium, melainkan kemampuan untuk tetap bertahan saat tekanan datang sebelum pertandingan dimulai.


0 Komentar