SALATIGA — Siswa SMA Negeri 3 Salatiga diajak menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam menghadapi derasnya informasi, termasuk bersikap kritis terhadap hoaks. Pesan itu disampaikan dalam upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di SMA Negeri 3 Salatiga, Kamis, 1 Oktober 2026.
Pembina upacara Deny Firianto Utomo, M.Or. menegaskan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan rutin tahunan. Peringatan tersebut menjadi kesempatan untuk memahami kembali perjalanan bangsa sekaligus menerapkan nilai Pancasila pada persoalan yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Pancasila harus tetap menjadi jangkar moral dan pemersatu seluruh elemen bangsa yang beragam. Pancasila harus menjadi living ideology, ideologi yang hidup,” kata Deny.
Menurut Deny, salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini adalah kemampuan menyikapi arus informasi yang masif. Kesadaran untuk memeriksa informasi dan tidak mudah terpengaruh hoaks menjadi bagian penting dalam menjaga kehidupan bersama.
Persoalan tersebut juga mendapat perhatian BPIP. Dalam forum komunikasi publik pada Mei 2026, BPIP menyebut hoaks, disinformasi, dan perang narasi di ruang digital sebagai bagian dari tantangan terhadap persatuan. Dokumen resmi BPIP tahun 2026 juga mendorong generasi muda menjadikan Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan tidak berhenti sebagai teks.
Upacara diikuti siswa, guru, tenaga kependidikan, serta mahasiswa praktikan dari UIN dan UKSW Salatiga. Plt. Kepala SMA Negeri 3 Salatiga Supriyanto, S.Pd. turut mengikuti upacara bersama jajaran sekolah.
Pasukan Pengibar Bendera Pratita Wijaya bertugas dalam upacara yang berlangsung sekitar 45 menit tersebut.
Peringatan juga menjadi kesempatan untuk mengenang para Pahlawan Revolusi. Namun bagi siswa, menurut Deny, penghormatan terhadap perjalanan bangsa perlu diteruskan dalam tindakan yang relevan dengan kehidupan sekarang.
“Mari jadikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2026 ini sebagai pematik semangat untuk terus berkontribusi membangun Indonesia yang lebih kuat, berdaulat, adil, dan makmur bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Pesan itu menempatkan Pancasila bukan sekadar materi yang dihafalkan. Di lingkungan sekolah, nilainya dapat dimulai dari tindakan sehari-hari: menghargai perbedaan, bertanggung jawab atas informasi yang dibagikan, dan tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi.



0 Komentar